<body bgcolor="#F3F4F7" leftmargin="0" topmargin="0" rightmargin="0" bottommargin="0" onLoad="MM_preloadImages ('http://i1110.photobucket.com/albums/h441/sajakmasisir/jpg/banner_4ganti.gif')"><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d5375152\x26blogName\x3dSajak+Masisir+(Blog+Beranda)\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://blogberanda.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://blogberanda.blogspot.com/\x26vt\x3d4066893638880322838', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
 
 






 
Salam, Selamat datang di Komunitas Sajak Masisir  

Dikirim 28.3.11    
BAYANG [yang] BAYANG 

belum juga memenuhi
ingin merengguk
belum juga menanam
ingin mengetam

belum juga meraksa segala rasa, ingin mengaisi kasih sayang. belum juga mengurus menjaga sudah memerintah. belum juga mencangkul ingin melubang.

banyak hal berubah, banyak celoteh terbuang begitu saja. banyak hal, terlalu banyak yang ingin kita gapai, padahal tetangga pencapaian belum juga didaki.

padahal, ingar-bingar telah mengajarkan kita banyak hal. keresahan datang-pergi silih berganti. hari ini kambing, besok kerbau. hari ini mujur, besok terlanjur. dan kita masih saja berleha-leha dalam bayang-bayang.

Cilangkahan, 23 Maret 2011.


Dicatat oleh Yogi Hendardi, Jam 1:03 AM |    




Dikirim 16.6.10    
Sedang dalam penungguan 

menunggu sesuatu itu indah
indah dalam artian apa?
apa jika yang ditunggu datang..
atau jika yang datang ternyata menunggu kita

jakarta, Juli 2010
di dalam ruang ber-AC suhu 24
di luar hujan


Dicatat oleh deew, Jam 8:22 AM |    




Dikirim 1.1.09    
Selamat Tahun Baru, Bumi! 

Selamat tahun baru, bumi!
Masih bertahankah engkau
oleh segenap kebiadaban,
kemunafikan, ketamakan,
dan kecongkakan kami?

Masih sabarkah engkau, bumi
menyaksikan setiap perjalanan angin,
pergantian musim, pergeseran tahun,
sementara tubuhmu kian menepi
terkikis rakus oleh para 'tikus'?

Hingga kapankan, bumi
engkau akan memaklumi
ulah manusia tak manusiawi?
Mereka tak saja menindasmu,
namun membahayakan diri sendiri
dengan eksploitasi, menggunduli,
melubangi juga mengotori.

sekali lagi aku menanyaimu, bumi:
"Kapankah kau akan benarbenar marah?"

"Nanti,.. ketika mentari telah berpindah arah!
Tatkala Tuhan menurunkan titah!"

"Oh...betapa misteri jawabanmu!
Aku takut manusia tak jua insaf.
Hingga kau murka tibatiba!"

"Bukankah aku telah sering menebar tanda;
banjir, longsor, gempa. Apa tak cukup makna?"

"Kamu benar, bumi. Tapi, kami, manusia, memang bebal!"

Bebal, bebal, bebal
semakin tebal
menebal
hingga gelap menggumpal
menyelimuti hati,
dan akal.[]

Kairo, Kamis, 1 Januari 2009.



Dicatat oleh Sabdapena, Jam 8:47 AM |    




Dikirim 9.4.08    
Ramsis, Mata Otak-ku yang Nakal 

Senja yang muncul di kota seribu menara
Aroma syisa yang menyengatkan rasa
Ku rebahkan jasadku mengikuti kepulan asapnya

Terlintas di mataku sosok anak hawa
Menyusup, memasuki bangunan tua.
Begitu dekat pandangan mataku padanya.

Warna merah yang ada pada bibirnya.
Putih mulus kulit yang membungkus tubuhnya.
Lekuk bodi tubuh yang menggoda rasa…

Sibakan angin yang membukakan tonjolan gunungnya…
Membuat mataku asyik manatapnya.
Hingga otak nakalku mencerna …

betapa indah gundukan miliknya.
Yang terselip di antara kedua bongkahan pahanya.
Wooooow… sungguh, aku terkesima melihatnya.







Dicatat oleh mafia gurun, Jam 1:21 AM |    




Dikirim 6.4.08    
Kabut Senja 

berdiri... aku terpaku dalam kelam
meniti masa dalam sebuah penantian
onak duri tak lagi aku hiraukan
demi gapai sebuah impian

dalam gelapnya malam
aku hanya mampu bersimpuh
dengan uraian bening bening kaca
yang membaur iringi sajak sajak-Mu
pesona keindahan alam

terkadang gelak tawa
membuat pilu hati yang terluka
menyayat jiwa yang sedih
yang s'lalu berharap
akan sebuah kedamaian
dalam cita dan cinta






Dicatat oleh walilaskar, Jam 1:03 PM |    




Dikirim 15.1.08    
Ujian oh Ujian; Renungan Lapang di Sela Kesempitan 


Ujian menjelang ujian datang ujian menantang ujian lagi aku masuk ujian.
Dalam dingin dalam sepi dalam kesendirian dalam keramaian aku berjuang.
Melawan malas melawan beku otakku aku panas-panaskan dengan bacaan-bacaan.
Ragaku rapuh jiwaku rengkuh aku kuat-kuatkan aku semangat-semangatkan.
Kerena dengan ujian karena melewati ujian adalah satu-satunya keniscayaan,
Menuju masa depan menuju titik tingkatan yang telah diimpi-impikan.


Maka dalam ujian aku tekadkan dan dalam ujian aku terimakan,
Membagi-bagi waktuku dengan perencanaan mengisinya dengan penuh penghayatan.
Tidak pagiku tidak siangku tidak soreku tidak malamku tidak aku siakan.
Semuanya aku gunakan semuanya aku kerjakan semuanya aku manfaatkan.
Betapa detik betapa menit betapa jam sungguh berhargakan.
Dalam masa ujian aku seakan telah bisa ber`itba’ kepada Nabi, Sahabat, Tabi’in, Salafiyyin as-Sholihin, yang membagi malam-malam mereka menjadi tiga bagian;
Sepertiga pertama untuk belajar, sepertiga kedua untuk istirahat dan sepertiga terakhir untuk bermunajat.
Ohh...sungguh manfaat..!

Dalam ujian waktuku teratur dalam ujian hidupku normal.
Dalam ujian makanku teratur dalam ujian ibadahku tersentral.
Dalam ujian ragaku makmur karena otakku harus kerja lembur.
Dalam musim ujian dalam semangat ujian dalam rangka menempuh ujian ada latihan kedisiplinan, keteraturan, pemanfaatan dan penghayatan.
Karena dalam ujian dalam sudut-sudutnya aku temukan dimensi pelajaran, yang terbiaskan dalam ritus-ritus keseharian; kopi hangat, teh manis, susu segar, madu, jahe, cemilan ringan seadanya diiringi petikan gitar Flamenco dan Gypsy Kings yang lembut syahdu menemani hari-hari menyantap beratus hingga beribu halaman diktat.
Shalawat maktubah, shalat rawatib, masjid, wirid pagi-sore, qiyamul lail, shalat hajat, hingga puasa Senin-Kamis bahkan Daud, menambah kekhusyuan penghayatan akan beratnya ujian dalam proses pencapaian sebuah titik tuju yang didamba-dambakan.
Karena dalam posisi seperti ini manusia ibarat dalam medan perang, nyata, tidak lagi sebatas mimpi, karenanya mau tidak mau harus dijalani, dengan ikhtiar sebisanya, dengan segala daya dan usaha semampunya.

Maka dalam beberapa jenak peristirahatan aku menerawang
Haruskah setiap ujian diformalkan, bahkan ujian kehidupan dari Sang Maha Raja
Agar raportnya bisa segera diterimakan; entah dalam peralihan tahun atau di pergantian umur
Lalu dari situ akan ada evaluasi
Untuk mempertahankan, atau memperbaiki!?


Ohh...andai hari-hari biasaku bisa semanfaat hari-hari ujian !
Ohh...mungkin aku akan bisa sampai ke derajat makrifat ??
Atau setidaknya aku telah merefleksikan kesyukuran
Atas setiap nafas yang terhembus dan lalu terisi kembali tanpa harus membeli !.

Ujian menjelang ujian datang ujian menantang ujian lagi aku masuk ujian.
Dalam dingin dalam sepi dalam kesendirian dalam keramaian aku berjuang.
Melawan malas melawan beku otakku aku panas-panaskan dengan bacaan-bacaan.
Ragaku rapuh jiwaku rengkuh aku kuat-kuatkan aku semangat-semangatkan.
Kerena dengan ujian karena melewati ujian adalah satu-satunya keniscayaan,
Menuju masa depan menuju titik tingkatan yang telah diimpi-impikan.

Ohh...andai hari-hari ujian bisa mengilhami hari-hari biasaku seterusnya sepanjang hayatku...!

Ohh...Nawaitu Lillah !

_Cairo, 15 Januari 2008, 13.00 CLT_


Dicatat oleh Sabdapena, Jam 2:59 PM |    




Dikirim 4.12.07    
AMELIA 

Puisi Duntara Badai Saka

Masuklah kemari Amelia... masuklah
Di sinilah jalan hidupmu
Suara tanpa tuan banyak memanggil di luar sana
Masuklah Amelia... masuklah dengan perlahan
Tiada warna di mana engkau berada
Tiada bahasa yang bisa berkata
Masuklah Amelia... menyatulah...
Di sini ada rasa yang tiada terbagi
Di sini ada aroma yang terus mewangi...
Tidakkah kau tahu
Denyut jantungmu menggerakkan tubuhku
Air matamu mengaliri hatiku

Pejamkanlah pandanganmu Amelia... pejamkan
Sekarang...
Lihatlah Amelia... lihat dengan mata hatimu
Sebuah rumah telah lama terkunci, oleh sepi, oleh ruang, oleh waktu
Bukalah Amelia... bukalah... sekarang


Dicatat oleh fuddyduddy, Jam 10:51 PM |    




Hadir dari sajak-sajak tercecer, kemudian kami kemas sebagai catatan-catatan duplikat hati yang acap kali meraung menyuarakan irama-irama kebebasan, kesefahaman, penolakan, penyesalan, kritik, keindahan dan romantisme. mungkin hanya rangkaian huruf-huruf setengah jadi, namun izinkanlah ianya dinamai sebagai sajak. Hanya untuk menjembatani inspirasi-inpirasi terpasung, sangat sayang jika sekedar tertoreh di atas lembaran kertas-kertas usang.



Jumlah Pengunjung
Sejak April 2007

Best View : IE, 1024x768 px


Powered by Yahoo Groups
© 2007 TintaKita Corporation
Design : abditea. All Rights Reserved
Powered By : blogger.com & aoshartos.com