<body bgcolor="#F3F4F7" leftmargin="0" topmargin="0" rightmargin="0" bottommargin="0" onLoad="MM_preloadImages ('http://i1110.photobucket.com/albums/h441/sajakmasisir/jpg/banner_4ganti.gif')"><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d5375152\x26blogName\x3dSajak+Masisir+(Blog+Beranda)\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://blogberanda.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://blogberanda.blogspot.com/\x26vt\x3d4066893638880322838', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
 
 






 
Salam, Selamat datang di Komunitas Sajak Masisir  

Dikirim 30.4.07    
Anugrah Terarah 

Kau lihat disana sekolompok
nurani cemoohan hinggap di
berbagai sudut, Sadarkah kau
dengan semua itu

Kau terdiam tegar
tak pedulikan bisikan
bisikan kehancuran
Sejatikah kau

Atau dengan kesombonganmu
Kau tuturkan disetiap sudut
Omonganmu kini dalam kebencianmu
Ocehanmu kini dalam pertanyaan


Dan umbaran cemoohanpun kini
kau telah dapatkan
Kehatihatian merupakan
anugrah yang terarah

Des '06



Dicatat oleh Cleopatra, Jam 8:33 PM |    



KeaBadian 

Kumandang ketauhidan menggelegar
disetiap kota kampung bahkan disetiap sudut negara
namamu begitu agung
keberadaanmu begitu samar namun nyata
lihatlah di menara menara sudut-sudut bangunan rumahmu
begitu kental atasmu
wahai manusia-manusia akankah kau mengetahui
siangmu bak terpaan gemuruh ombak
yang membentang dari sudut ke sudut
malammu bak tiupan angin aliran syahdu irama kebahagiaan
tekadmu lurus niatmu tulus serta hatimu lurus

tergoyahkah kau dengan bisikan-bisikan kedholiman
ketegaranmu kini dalalam cobaan bisikan-bisikan kekalahan
akankah terus sejalur dengan aturan ritma
yang terpampang di dinding dinding ketauhidan
keberadaanmu kini dalam cobaan keabadian


Dicatat oleh Cleopatra, Jam 8:31 PM |    



KARMA 

kental engkau dengan makian berterus tanpa perhentian, seraya disanggah itu detak-detak tak terdengar padahal gemuruh usang berdentang kembali sebaris-sebaris bergerak lagi setatih-setatih mengaisi keraguan terus tertahan oleh budaya membatu oleh keberanian meragu. pintar engkau tersenyum di balik tirai-tirai kemelut, di atas dalih-dalih usang yang sekarang ternikmati.

sajak-sajak lelah bertekuk mengingatkanku akan romusa papah, pesakitan terbuang dan salju yang tak sanggup turun di tahun ini. carilah kebahagiaan pada tubuh sakit pada cerita air pada getir sayatan basah memekik lengking berlarian tanpa arah. siangi rindu surat-surat elektronik terkirimkan di malam rajam dan tubuhmu kembali mengaisi guncangan keinginan tertahan.

ini semua tentang laut, batu, kayu, awan, dan angin yang sengaja kuciptakan karena merpati mengendap begitu akut oleh masa lalu hingga pembunuhan perlahan sebidik-sebidik terlakukan begitu saja layaknya tubuh tak berdarah nafas tak berhembus dan bibir terus bersiul malas. berkata beriringan tentang air mata tak surut, engkau itu tergeletak pasrah di atas permohonan membugang dan aku menyautinya dengan segala penyesalan tidak henti hingga tak kunikmati lagi derita mendera berulang ini berputar entah berapa lapis hingga di antara hidup mati itu yang kosong sejajar canda-riang ikut berkabung atas ulangan-ulangan kata.


dunia ini-dunia ini lihatlah indah bukan? aku tak bisa menangis tak bisa tertawa tak bisa bungkam sahaja. lirik-lirik mengalir begitu deras tercurahkan setengah sadar karena tiang sandaran tercerabut ke atas malam-malam menggila nikmatnya itu melumat kesendirian terlaknat. aku ingin marah, aku ingin sakit, aku ingin senang menggerayangi lagi sisi emosi kemanusiaan yang wajar sekaca pembajak berpesta atas rampasan atau mengutuki redup bintang-bintang keberuntungan.

kau, di mana akan engkau pancangkan pasak-pasak itu? kulihat ke mana saja diajak berlari menerus hingga pori-pori tak lagi berpeluh, mungkin tak tertemukan tanah basah mudah mengeras di dunia carut-marut dunia masa kecil dahulu.

masih ingin kutulis ejaan-ejaan informasi terpotong karena arah angin aneh tak menentu. masih ingin kupunahkan gelembung harapan meninggi, lagi-lagi terheran membaca arah angin aneh tak menentu.

ingin kutulis segala penyesalan agar tak pernah terulang dan mengendap lagi dalam penjara hari yang bungkam tak bergetar, tapi ini kunimati sebagai nuansa-nuansa masa mudaku yang pernah menggila oleh guncangan-guncangan rimbun tak beriak dan sama sekali tak sengaja pernah kuundang.

Jan '07



Dicatat oleh Sajak Masisir, Jam 4:11 AM |    



LELAH 

bagaimana
selanjutnya
seharusnya
Aku Lelah

cukuplah cukup
jangan memilih lagi
Aku Lelah

ini apa?
perjalanan diksi
membohongi
Aku Lelah

kata-kata patah
ritma-ritma papah
Aku Lelah


dunia kiamat
datang berdatangan
akhir pengakhiran
Aku Lelah

catatan usang
pepatah dukun
jampi-jampi kuno
Aku Lelah

matang sudah
keluh-kesah
sepertiga malam
sajak-sajak buram
Aku Lelah

temu kencan
janji rahasia
serbuk kemenyan
candi persemedian
Aku Lelah

puntung menggunung
tentang ketenangan
datang berdatangan
Aku Lelah

pelarian
benar
pelarian
mungkin mungkin
Aku Lelah

Feb '07



Dicatat oleh Yogi Hendardi, Jam 3:51 AM |    



LELAH II 

merasuk engkau merasuk
atas kata-kata menusuk
selebihnya tiada ketertutupan
atas kejadian-kejadian

lawatan sengaja dihindari
menjauh sejauh mungkin
disibukan bayangan sendiri
menjauh sejauh mungkin

mati di kehidupan
hidup di kematian


bukan sinar pengharapan
bukan sinar penolakan
mata itu mata patung
patung itu patung berkabung

dunia diulang-ulang
seperti mengulang hari kelahiran
seperti mengulang hari kematian
dunia diulang-ulang

sedang aku mengamini
segala gerak-gerik berterus
memanjang ianya menanyai
tentang paras wajah tulus

pergumulan mempertemukan
penjaja berkeliling, penjual menetap
hitungan digenapkan
untuk kantung-kantung budi berharap

tarik-ulur melelahkan
ada saat memberi ada saat menerima
permohonan terabaikan
ada saat memberi ada saat menerima

oh, engkau itu terus mempertanyakan
fase-fase masa lalu yang belum diselesaikan
oh, aku ini terus pula mempertanyakan
cinta lama yang belum dihadirkan

April '07





Dicatat oleh Yogi Hendardi, Jam 3:44 AM |    



Ruang Sajak 

Selamat datang di Komunitas Sajak Masisir
Halaman ini untuk siapa saja yang ingin mempublikasikan Sajak/Puisisnya.

Salam,
Komunitas Sajak Masisir








Dicatat oleh Sajak Masisir, Jam 3:12 AM |    




Hadir dari sajak-sajak tercecer, kemudian kami kemas sebagai catatan-catatan duplikat hati yang acap kali meraung menyuarakan irama-irama kebebasan, kesefahaman, penolakan, penyesalan, kritik, keindahan dan romantisme. mungkin hanya rangkaian huruf-huruf setengah jadi, namun izinkanlah ianya dinamai sebagai sajak. Hanya untuk menjembatani inspirasi-inpirasi terpasung, sangat sayang jika sekedar tertoreh di atas lembaran kertas-kertas usang.



Jumlah Pengunjung
Sejak April 2007

Best View : IE, 1024x768 px


Powered by Yahoo Groups
© 2007 TintaKita Corporation
Design : abditea. All Rights Reserved
Powered By : blogger.com & aoshartos.com