<body bgcolor="#F3F4F7" leftmargin="0" topmargin="0" rightmargin="0" bottommargin="0" onLoad="MM_preloadImages ('http://i1110.photobucket.com/albums/h441/sajakmasisir/jpg/banner_4ganti.gif')"><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d5375152\x26blogName\x3dSajak+Masisir+(Blog+Beranda)\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://blogberanda.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://blogberanda.blogspot.com/\x26vt\x3d4066893638880322838', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
 
 






 
Salam, Selamat datang di Komunitas Sajak Masisir  

Dikirim 30.9.07    
Sajak di Muara Kelam 

 TAPI


Tapi... jangan salahkan

Cinta

Bila terjalin

Mesra

Antara tikus dan kucing.


Bohemian, 270905



Dicatat oleh fuddyduddy, Jam 8:45 AM |    




Dikirim 26.9.07    
Pesta Penyair, 23 September 2007 

Beberapa di antara sajak-sajak yang dideklamasikan:

Soker
Puisi El-Haq

Diammu makin menjadi
Seperti gerimis yang tak juga pergi

Kemana kata
yang baru hadir
Saat kita menepis tabir

Diammu mebuat perih
Hingga kata yang sempat ada
Kusimpan saja dalam basah mata

20.25/10-12-1427 "Ladang Batu
----------------------------------------------------------------

Langkahku
Puisi Annie

Menyingkirkanku,
Mengucilkanku,
Kecil…
Pilon.. dan nanar..
Pemberontak dan sesuatu yang layak ditolak
Ah, terserah kamu
Itu urusanmu dengan hatimu
Memang kadang hati tak pernah dimengerti
Dan aku?
Aku tetap melangkah
Karena aku sadar
Aku akan sampai di baris kedua
Sementara kakiku masih menginjak garis pertama.

----------------------------------------------------------------

Apa dan Siapa
Puisi Imas Jihan

Saat ini kita adalah apa
Saat ini kita adalah siapa
Saat ini kita adalah kenapa
Dan saat ini kita adalah berapa

Ketika pangkat menjadi siapa
Harta menjadi apa
Dunia seperti apa
Kecerdasan milik siapa

Dan hari esok…
Masih adakah yang tersisa
Meski hanya apa dan siapa?

----------------------------------------------------------------


Sebuah Karena
Puisi Mama Vika

Karena kutahu…
Ada jejak tak berujung
Karena kutahu…
Ada yang tertidur dalam derita
Karena kutahu…
Ada hidup dalam mati
Karena ada cinta yang terasa sakit
Karena kutahu…
Ada bias dalam sepi
Karena kutahu…
Ada mentari yang masih terbit
…esok hari.

----------------------------------------------------------------

MASA
Puisi Faisal Zulkarnaen

Ketika waktu menjejakkan kakinya
Langkah-langkah pelan namun pasti
Menuntun kita tanpa batas pasti
Kecuali mati

Tanpa rasa kita lalui
Tanpa bau kita ikuti
Waktu…

Untuk apa kita melaju?
Menyelinap celah-celah masa
Adakah jejak kita seharum kenanga?
Atau hanya tahi kucing kering?

Saat tukang nasi goreng lewat
Meninggalkan bau harum bawang
Yang membuat perut makin melintir
Apakah seperti itu?

Atau seperti pohon rindang
Yang memberikan keteduhan
Ketika pak Tani berpeluh kepanasan
Setelah berdansa dengan cangkul dan lumpur?

Apakah diam lilin
Yang terangi kesunyian malam
Namun leleh dan lebur?

Atau kita terus akan manyun
Membiarkan waktu
Merajang halus harapan impian kita?
Lalu dihembus semilir angin?

Waktu…
hanya akan pergi
tiada pernah akan kembali

Demi masa…

Cairo, Juli 2004
----------------------------------------------------------------

FIRDAUS
Puisi Falahuddin Qudsi

Kini Firdaus-Mu telah berubah, Tuhan
Menjadi senjata kawanan pembajak
Juga bom waktu

dan peluru

Kairo, 23 September 2007






Dicatat oleh fuddyduddy, Jam 1:23 AM |    




Dikirim 21.9.07    
SAJAK DUA JIWA 

Seperti tiada maaf lagi untukku
Ramadhan tetap Ramadhan
Seperti tiada hati lagi untukku
Ramadhan tetap Ramadhan

tidak ada yang melarang engkau untuk terus menuliskan namamu pada kertas-kertas koran, dinding-dinding perkotaan, situs-situs kesusastraan, narasi-narasi kematian, dan bahkan batu nisan pekuburan-pekuburan. yang melerai hanya detak di sanubarimu itu. Wajarkah?

menyeret apa saja mendekat, kau ajak ia berlari dan terus saja berlari ke dunia itu; dunia yang sangat jarang dikunjungi pelancong. engkau memang merasai selesa. Menikmati setiap inci langkah keegoisan, setiap tetes keringat kesendirian.

tidak kasihankah kau, badan yang lapuk itu terus saja harus menuruti titahmu. Malam dijadikan siang, siang dijadikan malam. ah, apa bedanya raga itu dengan keledai yang terus dicambuki penjaja kaki lima. dia sangat capek sekali.

tidak kasihankah kau, hati orang-orang yang sudah terlanjur tercarut? yang setengah nafasnya hampir menyatu dengan nafasmu. dan cobalah kau perhatikan, bukankah setengah nafasmu juga begitu? sudah hampir setengahnya menyatu dengan nafas mereka. tidak kasihankah kau, hatimu yang sudah terlanjur tercarut.

___________________________

Ah, kau fikir aku seperti keledai yang kau ceritakan itu? jika bukan aku yang menjadi pedagang kaki lima, tentu mereka. dan aku keledainya. apa kau tidak pula merasa mengajak apa saja mendekat untuk dibaptis menjadi pengikut-pengikut dungu.

teruslah berbicara tentang kelapukan raga, tentang segala keletihan. Lalu mengapa kau ajak ia berkeliling menelusuri Rumah-rumah ibadat yang jauh-jauh itu. Yang terdekat sajalah. di sini setiap radius seratur meter selalu kau dapati menara menjulang. menghitungi bintang-bintang. bukankah sama saja, kita sama-sama mengejar ketinggian itu?

dan mereka itu, siapa suruh mendekat? sudah tau aku sedikit gila. berani mendekakan diri, bukan hanya siap untuk lebih didekati; Tetapi harus siap pula untuk dijauhi. Justru seharusnya aku yang mencaci. Nafasku yang tercuri itu; Malah lebih dari setengahnya. Sudahlah aku capek. Salah-salah, bisa aku yang jadi keledai.

Ada kepentingan apa lagi?
aku sudah sangat jauh menyepi
Ada kepentingan apa lagi?
aku sudah sangat jauh menepi

Sept '07


Dicatat oleh Yogi Hendardi, Jam 3:41 AM |    




Dikirim 18.9.07    
Puisi Goenawan Mohamad 

TIGRIS

Sungai demam
Karang lekang
Pasir pecah
pelan-pelan

Gurun mengerang: Babilon!
Defile berjalan

Lalu Tuhan memberi mereka bumi
Tuhan memberi mereka nabi

Antara sejarah
dan sawah
hama
dan Hammurabi

Setelah itu, kita tak akan di sini


Kau dengarkah angin ngakak malam-malam
ketika bulan seperti
susu yang tertikam
ketika mereka memperkosa
Mesopotomia?

Seorang anak berlari, dan seperti dulu
ia pun mencari-cari
kemah di antara pohon-pohon tufah

Jangan menangis.

Belas adalah
Iblis karena Tuhan telah menitahkan airmata
jadi magma, bara yang diterbangkan bersama
belibis, burung-burung sungai yang akan
melempar pasukan revolusi
dengan besi dan api
"Ababil! Ababil!" mereka akan berteriak.
Bumi perang sabil.

Karena itulah, mullah, jubah ini
selalu kita cuci dalam darah di tebing
Tigris yang kalah
Dari Najaf ada gurun. Kita sebrangi
dengan geram dan racun. Dan tiba di Kerbala
akan kita temui pembunuhan
yang lebih purba.

(Ibuku. Seandainya kau tahu kami adalah anak-anakmu)

1986

dikutip dari: Asmaradana, Grasindo, 1992


Dicatat oleh fuddyduddy, Jam 12:08 PM |    




Dikirim 15.9.07    
Pesona 

Maaf, kukira kau sudah tahu

;di mataku kau seanggun melati

Apalagi di hatiku

;sekuntum melati (hendak) menjelma bidadari

Gami', 260406.

Labels: Bohemian Ahmad Zuhri






Dicatat oleh fuddyduddy, Jam 10:30 PM |    




Dikirim 14.9.07    
Kau* 

meski setiap saat kau bangun gubuk
dalam dirimu
aku yakin tidak akan pernah rampung
kau dirikan itu
sebab kau selalu kalah oleh waktu

meski kau terus kelana sekalipun
aku berani memastikan tak akan bisa kau bangun cita-cita itu
sebab putaran waktu selalu saja kau timbun
menggilasmu dan kau lena oleh mimpi-mimpimu

segala waktu milikmu kubaca
dan kau adalah kalah
yang tidak mau kalah
sebenarnya

kau yang kan pulang, kau yang kan hilang
kau yang kan membayang, kau yang kan terkenang

selamat jalan
ya..selamat jalan kawan

Kairo, 14/09/2007
*Sederet kata untuk mingan






Dicatat oleh Doel Dal, Jam 9:12 PM |    




Dikirim 11.9.07    
AKU 

bukan Chairil Anwar
bukan Calzoum Bachri
bukan Taufiq
bukan Rendra
bukan Emha
bukan Ronggowarsito
Mereka adalah jantung
Aku adalah darah
selama masaku bercumbu dengan waktu


----------------Jg, 6 Maret 2003







Dicatat oleh Ken Zurnala, Jam 4:54 PM |    




Dikirim 10.9.07    
Ya Lahwi! 


Ya lahwi,
hatiku dirundung duka
merajut benang hampa

Ya lahwi,
jendelajendelamu telah terkunci,
hanya tertinggal sepi

Ya lahwi,
kutinggal sepi
kurengkuh gaduh



Ya lahwi,
kau usir aku
"Pergilah!" katamu

Ya lahwi,
"Kenapa?"
Tanyaku padamu

Ya lahwi,
"Begitulah!"
Jawabmu

Ya lahwi,
Lalu kataku,
"Ya sudah, aku pergi!"


Antara Husein dan Makram Abied, 9 September 2003.

*"Ya lahwi!" adalah ungkapan dalam bahasa sehari-hari Mesir yang dapat diartikan dengan "Amboi!" dalam Bahasa Indonesia, lebih nikmat jika diucapkan dengan suara yang agak meninggi, "Ya lahwiiii...."

Labels:



Dicatat oleh Faisal Zulkarnaen, Jam 1:37 PM |    




Dikirim 9.9.07    

MESKI KAU KALAH*

MESKI kau kalah
kau adalah masa depan yang dari
setiap desir angin kau harus belajar
kenapa daun gugur disaat musim

MESKI kau kalah
engkaulah yang suatu waktu
harus melawan debur ombak
dan badai yang menampar mukamu

MESKI kau kalah
siapa yang bisa merebut jiwamu
bukankah kau sendiri yang tau
lalu pada siapa kau harus meronta

MESKI kau kalah
aku berani memastikan masih ada sisa untuk
melawan pada setiap desis nafasmu
bukankah malam selalu menyisahkan misteri

hidup ini terjal
terlalu remeh untuk kau menyesal
dan itu kekalahan bukan?

Kairo, 05/09/2007

* Sebuah coretan untuk kawan


Dicatat oleh Doel Dal, Jam 3:53 PM |    




Hadir dari sajak-sajak tercecer, kemudian kami kemas sebagai catatan-catatan duplikat hati yang acap kali meraung menyuarakan irama-irama kebebasan, kesefahaman, penolakan, penyesalan, kritik, keindahan dan romantisme. mungkin hanya rangkaian huruf-huruf setengah jadi, namun izinkanlah ianya dinamai sebagai sajak. Hanya untuk menjembatani inspirasi-inpirasi terpasung, sangat sayang jika sekedar tertoreh di atas lembaran kertas-kertas usang.



Jumlah Pengunjung
Sejak April 2007

Best View : IE, 1024x768 px


Powered by Yahoo Groups
© 2007 TintaKita Corporation
Design : abditea. All Rights Reserved
Powered By : blogger.com & aoshartos.com