<body bgcolor="#F3F4F7" leftmargin="0" topmargin="0" rightmargin="0" bottommargin="0" onLoad="MM_preloadImages ('http://i1110.photobucket.com/albums/h441/sajakmasisir/jpg/banner_4ganti.gif')"><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d5375152\x26blogName\x3dSajak+Masisir+(Blog+Beranda)\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://blogberanda.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://blogberanda.blogspot.com/\x26vt\x3d4066893638880322838', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
 
 






 
Salam, Selamat datang di Komunitas Sajak Masisir  

Dikirim 23.8.07    
BIRU II (FILM) 

pada awalnya adalah ingin
kemudian kesempatan
pada awalnya adalah ingin
kemudian pengejaran

lalu ruang-ruang gelap
kadang bersendiri kadang berkumpul
di malam yang kantuk

pada awalnya adalah ingin
kemudian malu tergadaikan
pada awalnya adalah ingin
kemudian waktu terbiasakan

lalu ruang-ruang gelap
kadang menagih kadang tidak
di malam yang kantuk

pada awalnya adalah ingin
kemudian kebosanan

pada awalnya adalah ingin
kemudian terulang-ulang

lalu ruang tak lagi gelap
sebatas hiburan mungkin
di malam yang kantuk

pada awalnya adalah ingin
kemudian memilih
pada awalnya adalah ingin
kemudian mencari

lalu ruang memang tak gelap
sebatas kebebasan
di malam yang tak lagi kantuk

ah, di kegelapan manakah
manusia berhenti onani?

Masbak Juli '07


Dicatat oleh Yogi Hendardi, Jam 11:52 PM |    



KIDUNG QOLBU (1) 


Desiran angin di puncak loteng
di ujung mahkota penjara suci
membisikkan rahmat Tuhan

Desiran angin di puncak loteng
menyisir daun-daun
mengelus kubah masjid




Desiran angin di puncak loteng
tiada henti menyusup...
menyingkap dan membalik lembaran malam

Desiran angin di puncak loteng
timanglah kidung qolbuku
bawalah dalam pelukanmu

Desiran angin di puncak loteng
hembuskan nadaku
pada mereka yang lupa sesama

Desiran angin di puncak loteng
bujuklah telinga hatinya
bisikkanlah mereka adalah sama


Oktober 2002

Labels:



Dicatat oleh Faisal Zulkarnaen, Jam 10:22 AM |    




Dikirim 22.8.07    
HA...! 

Tangantangan itu terkepal di udara
berharap
jangan lagi ada luka

---------------
dipersembahkan untuk Indonesia tercinta dan para Pejuang Anti Kekerasan Masisir (Mahasiswa Indonesia Mesir)

Cairo, 19 Agustus 2007






Dicatat oleh Ken Zurnala, Jam 9:43 PM |    




Dikirim 19.8.07    
PUN 

ku cari di sudut panggung
makna kemerdekaan itu
belum ku temukan

pun

ku lirik dikau
di ujung rerumputan
belum ku dapatkan

pun

bersembunyi di mana?
engkaukah itu di antara kerumunan?
di dalam sanubari-sanubari terluka?

pun

pekikku
tetap
merdeka!


Cairo, 19 Agustus 2007





Labels:



Dicatat oleh Faisal Zulkarnaen, Jam 8:08 AM |    



MERDEKA 


Ah, merdeka kawan ! Mari kita pancangkan bendera yang mungkin sudah tidak lagi berwarna itu.

Ah, merdeka kawan ! Jangan biarkan suara-suara benci menangisi ketiadaberdayaan terus terulang.

Ah, merdeka kawan ! Narasi-narasi yang singgah papahlah ia ke tujuan terakhir-ke tujuan terakhir.

Siapa saja bisa berlari
mengapa berlari jika tidak terburu
Siapa saja bisa membenci
mengapa membenci jika tak keliru

Ah, keliru kawan ! Rupanya nuansa komunikasi terlalu lamban bergerak, rasaku rasamu sebentar kantungi sebentar kantungi sebentar.

Ah, keliru kawan ! Kompas tergoyang, selalu akan kembali ke utara akan kembali ke selatan. Kerusuhan datang, selalu akan kembali ke kediaman akan kembali ke ketenangan.



Ah, keliru kawan ! Kebebasan seharusnya tidak melalui sungai darah, cukuplah cukup kemerdekaan itu. Pantas memang mengorbankan selaksa henti urat nadi.

Ah, pecundang ! Ini diksi !
mengapa tak kau isi saja dengan benci.

Ah, merdeka kawan !
Siapa saja bisa berlari
mengapa membenci jika tak keliru

Agustus 2007


Dicatat oleh Yogi Hendardi, Jam 3:39 AM |    




Dikirim 5.8.07    
TIMBUL TENGGELAM 

Rantai nan terikat erat dalam hati hancur berderai berkali-kali, hati bingung tak karuhan, bebas tanpa asas. Terangkai kembali rantai-rantai baru lebih besar dan kuat saat hati ini menatap kalimat-kalimat arab di suatu pagi dalam kelas.

O, setan bengis mulai menyusun rencana, datang dalam bentuk wanita. Cantik, berbibir merah, tipis, sensual. Tubuh montoknya melelehkan rantai ini dengan segera. Kembali kucari rantai itu berlari 'ku ke masjid. Doa-doa kecil kucoba temukan rantai pengikat hati.

Dengan akal busuk segerobolan setan mengelilingiku saat jiwa ini khusuk melihat dunia luar dalam pustaka, datang mereka dalam bentuk maya, lembut mereka berucap: "Ikutlah denganku kawan, dan bawa jendela duniamu itu bersama." Kutinggal mereka keluar dengan menenteng si jendela dunia, diiringi suara rantai berderai untuk kesekian kalinya. Kujumpai kembali rantai itu saat kulempar jenedela itu ke dalam rak bisu yang seolah-olah ketakutan menatapku.

Rupanya iblis belum menyerah jua, kali ini datang berbentuk daun-daun kering seraya berkata: "Nyalakan aku duhai kasih, hisap dan rasakan kedahsyatan sensasiku! Aku yakin kau bakal ketagihan." Atas izin Sang Rantai, kuambil daun kering itu, kuputus cintanya lalu kubiarkan dijilat lidah sungai.

Tak lelah setan-setan itu mengganggu, tak lelah pula kujaga kesucian rantaiku. Biarpun kini ia datang berbentuk butiran-butiran kecil dikata obat sakit kepala, menawarkan fasilitas terbang tinggi ke atas pelangi. Tak segan kuludahi tawaran itu lalu kuinjak-injak di atas bumi.

Sementara rantai masih terikat dihati, kulihat wajah berkepala botak ini di depan cermin miring di dalam kelas. Kupeluk rantai itu, menangis hatiku seraya merintih doa: O, Tuhan, buatlah rantai ini mengikatku selalu, meski setan dengan strategi licik apapun coba melelehkan. Amin.

Rantai itu, lukisan iman nan kian timbul tenggelam.


Dicatat oleh fuddyduddy, Jam 10:59 AM |    




Hadir dari sajak-sajak tercecer, kemudian kami kemas sebagai catatan-catatan duplikat hati yang acap kali meraung menyuarakan irama-irama kebebasan, kesefahaman, penolakan, penyesalan, kritik, keindahan dan romantisme. mungkin hanya rangkaian huruf-huruf setengah jadi, namun izinkanlah ianya dinamai sebagai sajak. Hanya untuk menjembatani inspirasi-inpirasi terpasung, sangat sayang jika sekedar tertoreh di atas lembaran kertas-kertas usang.



Jumlah Pengunjung
Sejak April 2007

Best View : IE, 1024x768 px


Powered by Yahoo Groups
© 2007 TintaKita Corporation
Design : abditea. All Rights Reserved
Powered By : blogger.com & aoshartos.com